Rabu, 30 September 2015

Kebutuhan Gizi Bagi Atlet


A.      KEBUTUHAN GIZI BAGI ATLET
Secara alami pertumbuhan fisik seseorang akan sangat dipengaruhi oleh asupan makanan yang diterimanya. Genetik yang baik untuk seorang kandidat atlit olahraga prestasi tanpa asupan gizi yang baik, pertumbuhan fisiknya tidak akan sempurna. Hal lain yang sangat mempengaruhi perkembangan fisik tersebut adalah aktifitas fisik yang dilakukan sepanjang kehidupannya, apakah itu berupa latihan yang teratur dan terprogram ataupun kegiatan fisik lainnya. Kedua hal ini merupakan faktor pembentuk dasar utama dalam olahraga prestasi (Sidi, 2007).
Beberapa atlet dengan latar belakang berbagai cabang olah raga menunjukan bahwa gizi dan olah raga secara bersama-sama akan menghasilkan prestasi yang baik. Dengan menggunakan strategi gizi untuk olah raga baik sebelum, selama dan sesudah latihan dapat membantu atlet mencapai performa terbaik mereka. Setiap cabang olah raga punya kebutuhan gizi yang berbeda, akan tetapi secara umum telah diakui bahwa energi dan cairan merupakan 2 (dua) zat gizi yang perlu diprioritaskan, oleh karena itu harus tercukupi kebutuhannya.
Kecukupan konsumsi setiap hari disesuaikan dengan jenis olahraga yang dilakukan. Untuk mencukupi kebutuhan zat gizi maka harus menyusun menu seimbang yang dipergunakan sebagai penuntun. Sedangkan untuk menentukan kebutuhan kalori, perlu dilakukan pengelompokan cabang- cabang olahraga ke dalam 4 kelompok yaitu olahraga ringan, sedang, berat dan berat sekali.
Pengelompokan Cabang Olahraga:
1.      Olahraga ringan        : Menembak Golf Bowling Panahan
2.      Olahraga sedang     : Atletik Bulutangkis Bola basket Hockey Soft ball Tenis meja, Tenis Senam Sepak bola
3.      Olahraga berat           : Renang Balap sepeda Tinju Gulat Kempo Judo
4.      Olahraga berat sekali : Balap sepeda jarak jauh ( > 130 km ) Angkat besi, Marathon Rowing.

B.                 ZAT GIZI YANG DIBUTUHKAN OLEH ATLET
1.      Karbohidrat
Sumber utama karbohidrat terdapat di makanan pokok, bahan makanan pokok masyarakat kita adalah beras, sagu, terigu, jagung, ubi jalar, singkong, talas, kentang dll. Di dalam tubuh karbohidrat merupakan salah satu sumber utama energi. Karbohidrat merupakan sumber energi yang paling murah. Karbohidrat yang tidak dapat dicerna tidak dapat menghasilkan energi, misalnya selulosa, galaktan dan pentosan, jadi tidak akan menyebabkan kegemukan, dan sangat baik untuk membantu proses pencernakan. Karbohidrat dicerna dalam satu sampai tiga jam; protein dalam tiga sampai empat jam; lemak antara empat sampai lima jam. Memberi perhatian terhadap berapa lama suatu makanan untuk dicerna dapat membantu atlet dalam memilih makanan. Makanan pokok dengan daging rendah lemak, segelas susu, sayuran dan buah-buahan serta biskuit merupakan menu yang baik misalnya untuk pemain basket dua atau tiga jam sebelum latihan. Sebaliknya, segelas jus buah-buahan atau susu dan biscuit dapat dicerna dengan cepat dan merupakan pilihar yang baik satu jam sebelum latihan basket.
Rekomendasi karbohidrat untuk atlet berkisar dari 6 to 10 gIkgj1. Beban tubuh Idj1 (2.7–4.5 gIlbj1 beban tubuh Idj1). Karbohidrat mempertahankan tingkat glukosa darah pada saat melakukan latihan olahraga dan mengganti glycogen otot. Jumlah yang dibutuhkan tergantung dari jumlah pemakaian energy sehari-hari, tipe dari olahraga, sex dan kondisi situasi lingungan.


2.      Protein
Semua hayat hidup sel berhubungan dengan protein karena itu protein sangat lah penting. Protein terdiri dari unsur C, H, O, dan N. Berdasarkan komponen yang menyusun protein, maka dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu
a.       Protein sederhana (simple protein) adalah hasil hidrolisa total protein jenis ini merupakan campuran yang hanya terdiri atas asam-asam amino,
b.      Protein komplek adalah hasil hidrolisa total dari protein jenis ini, selain terdiri atas berbagai jenis asam amino, juga terdapat komponen lain, misalnya unsur logam, gugusan phosphst dsb (contoh: hemoglobin, lipoprotein, glycoprotein,
c.       Protein derivat, ini merupakan ikatan antara sebagai hasil hidrolisa parsial dari protein native, misalnya albumosa, peptone dll.
Rekomendasi Protein untuk atli yang dilatih endurance dan Strength berkisar dari 1.2 hingga 1.7 gIkgj1 berat badantIdj1 (0.5–0.8 gIlbj1 berat badantIdj1). Rekomendasi untuk pemasukkan protein ini secara umum bisa dicapai hanya dengan melakukan diet, tanpa pemakaian protein atau suplemen amino acid. Kecukupan pemasukkan Energy diperlukan untuk memelihara berat badan untuk pemakaian protein yang optimum dan performance.


3.      Lemak
Lemak adalah zat makanan yang paling banyak menghasilkan energi, dimana tiap 1 gram lemak menghasilkan 9 Kcal. Lemak dalam bentuk padat disebut lemak, seangkan lemak dalam bentuk cair disebut minyak. Lemak yang berbentuk padat umumnya terdiri dari lemak jenuh, dan berasal dari hewani. Lemak jenuh dikenal dapat meninggikan kolesterol di dalam badan.
Lemak tak jenuh ada 2 macam, yaitu
a.       Lemak tunggal tak jenuh yang hanya mempunyai satu ikatan rangkap. Lemak ini tidak meyebabkan peningkatan atau penurunan kolesterol didalam tubuh;
b.      Lemak majemuk tak jenuh yang mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap, lemak ini lebih banyak terdapat didalam minyak tumbuh-tumbuhan dan minyak ikan dan berfungsi menurunkan kolesterol.
Pemasukkan lemak harus berkisar dari 20% hingga 35% Dari jumlah total pemasukkan energy. Mengkonsumsi ≤20% energy dari lemak tidak memberi manfaat kepada performance. Lemak, adalah sumber dari energy, vitamin lemak yang dapat larut dan fatty acids yang essensial, adalah penting untuk dimasukkan kedalam diet atlet. Atlet tidak direkomendasikan untuk melakukan diet lemak yang tinggi. Bahan makanan yang banyak mengandung lemak jenuh antara lain es krim, krim susu, lemak babi, lemak daging gemuk coklat dll.


4.      Vitamin dan Mineral
Banyak alasan yang tepat untuk seorang atlet menggunakan suplemen vitamin dalam mendukung aktifitas fisiknya. Sebagai contoh, untuk atlet cabang olahraga renang dan atletik seperti gulat, olahraga senam, balet, para atlet melakukan diet ketat untuk menjaga keseimbangan berat badan dan penampilan (weight-control sport), namun beberapa atlet diperbolehkan melakukan diet ketat guna menjaga penampilan pada saat kompetisi. Penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin yang sebagian besar adalah vitamin larut air, dapat terjadi dengan cepat pada seseorang dengan diet rendah kalori. Vitamin tersebut harus digantikan setiap harinya dengan suplemen vitamin. Vitamin dan mineral terdapat pada buah-buahan, kandungannya sangat tinggi dan baik dikonsumsi sesuai kebutuhan.
  1. KEBUTUHAN ENERGI
Memenuhi kebutuhan energi adalah suatu prioritas nutrisi bagi para atlet. Optimum athletic performance didapat dengan pemasukkan energi yang cukup. Seksi ini akan memberi informasi yang dibutuhkan untuk menentukan keseimbangan energi untuk seorang individu. Para atlet butuh mengkonsumsi energi yang cukup untuk memelihara komposisi berat dan tubuh yang tepat sambil melakukan latihan olahraga sport.
Walaupun pemasukkan energy yang biasanya didapat oleh kebanyakan para atlet wanita yang melakukan latihan intensitas sesuai dengan jumlah para atlet pria per kilogram berat badan, sebagian atlet wanita mengkonsumsi energy lebih sedikit daripada pemakaian mereka. Pemasukkan sedikit energi untuk atlet wanita adalah suatu keprihatinan yang utama karena kondisi gigih dari keseimbangan energi negatif bisa mengakibatkan kehilanganberat badan dan disrupsi dari fungsi endocrine.
Pemasukkan energy yang tidak cukup sehubungan dengan pemakaian energy mengkompromasikan performance dan meniadakan manfaat dari latihan. Dengan pemasukkan energy yang terbatas, jaringan lemak dan tidak berlemak akan dipakai oleh tubuh sebagai Energi.
Tabel.1 Kebutuhan Energi Saat Olahraga
      Berdasarkan Berat Badan (Kal/menit)
Aktivitas
Berat Badan (Kg)
50
60
70
80
90
Sepakbola
7
8
9
10
12
Lari:
·         5,5 menit/km
10
12
14
15
17
·         5 menit/km
10
12
15
17
19
·         4,5 menit/km
11
13
15
18
20
·        4 menit/km
13
15
18
21
23
Jalan Kaki
·        10 menit/km
5
6
7
8
9
·        8 menit/km
6
7
8
10
11
·        5 menit/km
10
12
15
17
19
Tabel 2:Kebutuhan Energi Pada Macam-macam
 Cabang Olahraga(Kkal/Kg BB/24 jam)
Olahraga ringan
Olahraga sedang
Olahraga berat
Olahraga berat sekali
Laki-laki
42
46
54
62
Wanita
36
40
47
55
Tabel 3: Kebutuhan Energi Berdasarkan
  Aktivitas Olahraga (kalori/menit)
Aktivitas Olahraga
Berat Badan (kg)
50
60
70
80
90
Balap Sepeda
9 km/jam
3
4
4
5
6
15 km/jam
5
6
7
8
9
bertanding
8
10
12
13
15
Bulutangkis
5
6
7
7
9
Bola basket
7
8
10
11
12
Bola voli
2
3
4
4
5
Dayung
5
6
7
8
9
Golf
4
5
6
7
8
Hocky
4
5
6
7
8
Jalan Kaki
10 menit/km
5
6
7
8
9
8 menit/km
6
7
8
10
11
5 menit/km
10
12
15
17
19
Lari
5,5 menit/km
10
12
14
15
17
5 menit/km
10
12
15
17
19
4,5 menit/km
11
13
15
18
20
4 menit/km
13
15
18
21
23
Gaya bebas
8
10
11
12
14
Gaya punggung
9
10
12
13
15
Gaya dada
8
10
11
13
15
Senam
3
4
5
5
16
Senam Aerobik
Pemula
5
6
7
8
9
Terampil
7
8
9
10
12
Tenis lapangan
Rekreasi
4
4
5
5
6
Bertanding
9
10
12
14
15
Tenis meja
3
4
5
5
6
Tinju
Latihan
11
13
15
18
20
Bertanding
7
8
10
11
12
Yudo
10
12
14
15
17
D. PENGATURAN MAKAN
Tujuan pengaturan makanan pada atlet adalah:
Ø  Mempertahankan dan memperbaiki status gizi agar tidak terjadi kurang gizi atau gizi lebih (kegemukan).
Ø  Memelihara kondisi tubuh dan menjaga kesegaran jasmani.
Ø  Membiasakan atlet mengatur diri sendiri untuk makan makanan yang seimbang.
Ø  Membentuk otot dan mencapai tinggi badan optimal.
1. PERIODE PELATIHAN
Dalam periode pelatihan, pengaturan makan harus dilakukan selain dilaksanakan di Pusat Pelatihan juga harus dilakukan pada saat berada di rumah. Prinsip utama pengaturan makanan pada periode ini adalah tersedianya energy yang cukup untuk berlatih dan untuk menghindari pencernaan masih bekerja pada waktu pelatihan sedang berlangsung. Selain memperhatikan kandungan zat gizi dari makanan, pengaturan makanan juga harus memperhatikan pola latihan yang diterapkan. Selain sebagai sumber energi, bahan makanan yang dipilih harus juga mengandung berbagai macam vitamin dan mineral, sehingga kebutuhan zat gizi lainnya juga dapat terpenuhi. Seusai latihan, makanan yang dikonsumsi harus mengandung energi yang cukup, terutama makanan yang mengandung karbohidrat, mineral dan air untuk mengganti cadangan energi yang telah dipakai selama latihan.
2. PERIODE PERTANDINGAN
Makanan untuk atlet diatur agar tidak mengganggu pencernaan sewaktu pertandingan. Selain itu, makanan yang dihidangkan harus mengandung gizi seimbang dan sudah dikenal oleh atlet (atlet sudah biasa mengkonsumsi makanan tersebut).
3. PRA PERTANDINGAN
Kira-kira 3-4 jam sebelum pertandingan, atlet dapat mengkonsumsi makanan lengkap. Makanan sebaiknya mudah dicerna, rendah lemak, rendah serat, dan tidak menyebabkan masalah pada pencernaan atlet (tidak terlalu pedas, dan tidak mengandung bumbubumbu tajam serta tidak berlemak). Sedangkan makanan kecil/ minuman (biskuit, teh manis, jus buah, dll) bisa diberikan kira-kira 1-2 jam sebelum pertandingan.
4. SELAMA PERTANDINGAN
Minum air sebanyak 1-1,5 gelas 1 jam sebelum pertandingan dan saat istirahat (waktu jeda) sangat dianjurkan. Minum air selama pertandingan juga harus dilakukan setiap ada kesempatan, jangan menunggu sampai timbul rasa haus. Air minum dapat ditambah 1 sendok teh gula dan 1/4 sendok teh garam dalam 1 gelas air.
5. PASCA PERTANDINGAN
Segera setelah selesai pertandingan, atlet harus segera minum air dingin (suhu 10-15 Celcius) sebanyak satu gelas. Kemudian dapat dilanjutkan dengan sari buah/air + gula + garam. Kemudian dapat diberikan makanan padat yang mudah dicerna seperti biskuit atau bubur halus dalam porsi kecil.
6. SETELAH RASA LETIH BERKURANG
Lebih kurang 3-4 jam setelah pertandingan, atlet dapat diberikan makanan biasa dengan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan.
7. PERIODE PEMULIHAN (RECOVERY)
Periode setelah pertandingan atau periode istirahat aktif, atlet dapat makan makanan biasa untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi fisik. Pada prinsipnya makanan pada periode recovery sama dengan makanan pada periode pelatihan. Pemantauan status gizi secara berkala harus tetap dilaksanakan pada periode ini dan juga periode latihan. Misalnya dengan menimbang berat badan setiap hari dan mengukur tinggi badan setiap bulan untuk menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh).
E. MASALAH GIZI PADA ATLET REMAJA
Masalah gizi pada atlet remaja diantaranya adalah gangguan keseimbangan air dan elektrolit, amenore pada atlet wanita, dan osteoporosis olahraga. Penyebab utama masalah gizi tersebut adalah intensitas latihan fisik yang terlalu tinggi yang tidak mampu dikompensasi fisiologis tubuh dan tekanan mental yang berat akibat kompetisi. Kedua hal tersebut menyebabkan gangguan sistem endokrin dalam tubuh. Gangguan metabolisme kalsium yang erat hubungannya dengan hormon juga mengalami gangguan sehingga terjadi penurunan kepadatan tulang (osteoporosis). Lebih lanjut, kerapuhan tulang yang terjadi secara laten dapat meningkatkan ketahanan tulang terhadap trauma fisik atau dengan kata lain meningkatkan terjadinya fraktur patologis.
1.      Gangguan keseimbangan air dan elektrolit
Gangguan keseimbangan air dan elektrolit dapat terjadi pada jenis olahraga endurance yang berlangsung lama. Keseimbangan air dan elektrolit sangat penting pada atlet cabang olahraga endurance. Oleh karena akan mengganggu produksi energi dan pengaturan suhu tubuh. Cairan sangat penting untuk mengalirkan zat gizi dan oksigen ke dalam otot skelet untuk tujuan kontraksi.
Penggantian cairan pada atlet endurance apabila hanya minum air tawar dapat menyebabkan hiponatremi. Oleh karena dalam tubuh jumlah air dan sodium tidak seimbang. Untuk itu, pemberian cairan harus mengandung karbohidrat dan elektrolit. Hal ini dimaksudkan selain untuk mencegah terjadinya hiponatremi, juga untuk mencegah hipoglikemik.
2.      Amenore pada atlet wanita
Pada atlet putri yang amenore juga terjadi penurunan kadar estrogen akibatnya juga pada wanita muda bukan terjadi peletakan tulang tetapi justru penurunan massa tulang yang berarti wanita itu akan mempunyai risiko lebih besar untuk dikemudian hari menderita osteoporosis dan patah tulang. Penyebab amenore pada atlet belum seluruhnya dapat dimengerti. Telah diketahui berbagai faktor risiko. Rupanya beberapa atlet putri lebih rentan terhadap stress tertentu.
3.      Osteoporosis olahraga
Kalsium tubuh : 99 % terdapat dalam tulang skelet. Fungsi utama kalsium dalam tubuh adalah peranannya dalam tulang dan kini kalsium banyak disorot dalam hubungan keropos tulang (osteoporosis). Osteoporosis merupakan proses menua yang lebih menonjol pada wanita yang mengakibatkan tulang jadi lebih tipis dan rapuh. Faktor yang mempengaruhi hilangnya kalsium tulang adalah menurunnya hormon estrogen setelah menopause yang menyebabkan massa tulang menurun dengan cepat.
F.     FAKTOR PENYEBAB MASALAH GIZI PADA ATLET
Berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya masalah gizi pada atlet remaja antara lain :
a)      Intensitas latihan fisik yang terlalu tinggi yang tidak mampu dikompensasi fisiologis tubuh
Menyebabkan gangguan sistem endokrin dalam tubuh yang sangat diperlukan tubuh untuk menjaga stamina agar tetap stabil.
b)      Tekanan mental yang berat akibat kompetisi olahraga.
Menyebabkan gangguan sistem endokrin dalam tubuh. Gangguan metabolisme kalsium yang erat hubungannya dengan hormon juga mengalami gangguan sehingga terjadi penurunan kepadatan tulang (osteoporosis). Lebih lanjut, kerapuhan tulang yang terjadi secara laten dapat meningkatkan ketahanan tulang terhadap trauma fisik atau dengan kata lain meningkatkan terjadinya fraktur patologis.
c)      Kebiasaan makan yang buruk
Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan makan keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usia remaja. Mereka makan seadanya tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan mereka.
d)     Pemahaman gizi yang keliru
Tubuh yang langsing sering menjadi idaman bagi para remaja terutama remaja wanita. Hal itu sering menjadi penyebab masalah, karena untuk memelihara kelangsingan tubuh mereka menerapkan pengaturan pembatasan makanan secara keliru. Sehingga kebutuhan gizi mereka tak terpenuhi. Hanya makan sekali sehari atau makan makanan seadanya, tidak makan nasi merupakan penerapan prinsip pemeliharaan gizi yang keliru dan mendorong terjadinya gangguan gizi.
  1. Petunjuk Umum Tata Gizi pada Atlet
1.  Makanan yang bervariasi
Pesantai maupun orang yang sedang berlatih, tentu perlu makanan yang bervariasi yang meliputi 4-sehat 5-sempurna sejumlah kira-kira 6500 kJ (1500 kcal)/ hari. Atlet selama latihan dan pertandingan memerlukan jumlah kalori 2 – 3 kali lebih banyak.
2.    Kendalikan berat badan
Patokan misalnya tinggi badan (TB) / berat badan (BB) atau Index Massa Tubuh yang digunakan untuk menilai akseptabilitas BB orang dewasa, tidaklah tepat untuk atlet karena tidak memberikan informasi tentang komposisi tubuh. Misalnya, atlet dengan keangka tulang dan massa otot yang besar dapat dianggap sebagai kelebihan berat badan (over weight), padahal kandungan lemaknya sedikit. Pengukuran komposisi tubuh yntuk atlet lebih baik dengan menggunakan jumlah logaritma dari delapan lipatan kulit (skinfold) dengan lokasi 2 pada lengan atas, 4 pada tubuh dan 2 pada extremitas bawah dan nilai ini dapat diperbandingkan dengan nilai-nilai individu yang lain. BB ideal atau BB kompetitif harus diperoleh perlahan-lahan diluar masa pelatihan dan harus dipelihara selama masa pelatihan dan kompetisi untuk mencegah dampak buruk.
3.     Hindari makan terlalu banyak lemak
Atlit yang terlatih lebih banyak menggunakan lemak sebagai sumber energi dari pada yang tidak terlatih. Atlet dengan sumber lemak tubuh yang rendah sekalipun, ternyata mempunyai jumlah besar persediaan jaringan lemak, sehingga tidak perlu makan extra lemak. Lemak mengandung 37 kJ / g (9 kcal/g) dan harus digunakan tidak berlebihan, karena atlit juga rawan terhadap gangguan kesehatan yangdisebabkan oleh tata-gizi asam lemak jenuh, walaupun olahraga itu sendiri pada umumnya memberi manfaat bagi kesehatan para pelakunya. Penggantian atau pengurangan lemak jenuh dalam tata-gizi (misalnya : mentega, daging gemuk, keju, es krim, cake pada umumnya, biskuit, kue-kue kering dan coklat) dengan lemak tidak jenuh ganda atau tunggal (misalnya : mentega tidak jenuh ganda, minyak sayuran, kue-kue yang dimasak dengan mentega tidak jenuh ganda) dan produk-produk susu dengan lemak rendah dan daging yang kurus, dapat memenuhi pasokan kalori dan nutrien tanpa dampak buruk.
4.      Hindari makan terlalu banyak gula
Gula murni atau makanan yang terlalu manis dalam menu dasar hendaknya dikurangi karena dengan mengkonsumsi gula tidak murni yang terdapat dalam sayuran, buah-buahan dan padi-padian juga sekaligus mendapatkan mineral dan vitamin-vitamin yang diperlukan.
5.      Makan lebih banyak padi-padian, sayur-sayuran dan buah-buahan
Cadangan glikogen dalam otot penting untuk penampilan. Tata-gizi dengan CHO tinggi diperlukan untuk mengganti glikogen otot yang habis terpakai untuk latihan. Setiap gram CHO menghasilkan energi sebesar 16 kJ (= 4 kcal). Tata-gizi dengan CHO-komplex tinggi dapat membantu mengatur BB,karena kandungan nilai energinya yang relatif rendah dan cukup mengenyangkan. Tetapi untuk atlet angkat berat makanan yang mengenyangkan ini dapat menyebabkan asupan makanannya menjadi tidak cukup untuk memelihara BB-nya. Untuk atlet ini bila tata-gizinya telah seimbang, kebutuhan energinya lebih mudah dipenuhi dengan menambah gula atau asam lemak tidak jenuh tunggal atau ganda.
6.      Hindari minum alkohol
Pengaruh buruk akut dari alkohol adalah motorik/ performance, proses berfikir dan emosional. Dari sudut fisiologi alkohol menghambat proses glukoneogenesis dengan akibat hipoglikemia dan meningkatnya resiko dehidrasi pada olahraga. Hipoglikemia dalam hubungan dengan asupan alkohol dapat mengganggu termoregulasi dan dalam hal melakukan olahraga di lingkungan dingin, dapat menyebabkan suhu tubuh sangat menurun (hipotermia).
7.      Kurangi garam
Hal ini bertentangan dengan keyakinan yang sudah populer yaitu bahwa atlet memerlukan tambahan garam dalam makanannya. Asupan Natrium (Na) harian yang dianjurkan antara 40 – 100 mMol/hari biasanya cukup untuk atlet pada umumnya. Sajian makanan (barat) pada saat ini kandungan Na-nya antara 130-200 mMol/hari. Namun untuk atlet-atlet daerah tropis pernyataan diatas perlu dicermati lebih lanjut, karena pengeluaran keringat di wilayah tropis pada olahga berat dapat sangat banyak.
SINOPSIS
Dilakukan penelitian pada atlet di suatu cabang olahraga untuk mengetahui masalah gizi yang bisa dialami oleh atlet tersebut. Metode penelitian yang dilakukan yaitu observasi(pengamatan langsung). Teknik yang digunakan adalah teknik wawancara. Penelitian dimulai dengan mencari referensi mengenai gizi yang dibutuhkan oleh seorang atlet pada suatu cabang olahraga yang akan diteliti. Dalam upayanya untuk memenuhi gizi yang dibutuhkan, maka harus mengacu pada petunjuk umum tata gizi untuk atlet. Penelitian dilakukan dengan caramengamati pola makan dan frekuensi makan dari atlet tersebut, selain itu juga mengamati intensitas latihan fisik yang dilakukan oleh atlet dan mental atlet pasca bertanding untuk meneliti hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah gizi yang dialami oleh atlet tersebut. Jika sudah diketahui masalah gizi apa saja yang bisa ditimbulkan, kemudian melakukan analisis mengenai masalah gizi tersebut secara rinci dan memberikan solusi mengenai masalah gizi tersebut serta memberikan pencegahannya. Diharapkan dari penelitian tersebut dapat membantu atlet dalam menanggulangi masalah gizi yang dapat berpengaruh terhadap performa saat bertanding.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Antonio. Penyakit Gizi Salah. Modul IKOR 2009; 5 : 1-16.
  2. Irianto Djokok Pekik. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan Olahragawan. Jogjakarta: ANDI; 2006.
  3. Direktorat Bina Gizi Masyarakat: “Gizi Olahraga untuk Prestasi”, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, Jakarta 1997.
4.      Hasan Muh Said. Kesegaran Jasmani Atlet Sepakbola Pra-Pubertas. Jurnal IPTEK OLAHRAGA 2008; 10:188-102
5.      Depkes RI. Pedoman Tata Laksana Kurang Energi Protein Pada Anak di Puskesmas dan di Rumah Tangga. Direktorat Bina Gizi Masyarakat 1999.
  1. Ilyas Ermita I. Nutrisi Pada Olahragawan. Gizi Medik Indonesia 2004; 3: 9
7.      Benson JE, Engelbert KA, Eisenman PA, Nutritional Aspect of Amenorrhea in the Female Athlete Triad, International Jurnal of Sports Nutrition 1996; 6 :2
  1. Dewi, Fenni I. 1996. Faktor yang Mempengaruhi Remaja Kalangan Menengah Ke atas Dalam Memilih Makanan. Bogor: Skripsi Jurusan Gizi Masyarakat. FP-IPB.
9.      Anonim. Klasifikasi Olahraga dan Proses Pemecahan Energi dalam Tubuh. Modul IKOR 2009; 1: 1-20.
Sumber: http://ryosneider.blogspot.com/2011/12/gizi-atlet.html